Kamis, 13 Oktober 2011

LP dan ASKEP BRONKITIS KRONIS

Pengertian

Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490).

Etiologi
  • Rokok
    Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.
  • Infeksi
    Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie.
  • Polusi
    Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat – zat pereduksi seperti O2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
Tanda dan Gejala

Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan.

Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala :
  • Batuk, mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya.
  • Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau mukopuruen dan kental.
  • Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang – kadang disertai tanda – tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menetap.

Komplikasi

Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain :
  1. Bronchitis kronik
  2. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.
  3. Pleuritis.
    Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
  4. Efusi pleura atau empisema
  5. Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian.
  6. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri pulmonalis), cabang arteri (arteri bronchialis) atau anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat.
  7. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas.
  8. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
  9. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas.
  10. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.
ASUHAN KEPERAWATAN
  1. Pengkajian.
    Data dasar pengkajian pada pasien dengan bronchitis
    1. Aktivitas/istirahat
      Gejala :      Keletihan, kelelahan, malaise.       
                        Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari – hari.        
                        Ketidakmampuan untuk tidur.        
                        Dispnoe pada saat istirahat.
      Tanda :      Keletihan
                        Gelisah,
                        insomnia.
                        Kelemahan umum/kehilangan massa otot.
  1. Sirkulasi
    Gejala :      Pembengkakan pada ekstremitas bawah.  
    Tanda :      Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung
                  Distensi vena leher.
                  Edema dependent   
                  Bunyi jantung redup.
                  Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis  
                  Pucat, dapat menunjukkan anemi.

  1. Integritas Ego    
    Gejala :      Peningkatan faktor resiko   
                      Perubahan pola hidup
    Tanda :      Ansietas, ketakutan, peka rangsang. 
  2. Makanan/cairan
    Gejala :      Mual/muntah.
                      Nafsu makan buruk/anoreksia       
                      Ketidakmampuan untuk makan         
  3. Hygiene
    Gejala :      Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan  
    Tanda :      Kebersihan buruk, bau badan.           
  4. Pernafasan
    Gejala :      Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama 3 bulan
                      Episode batuk hilang timbul.
    Tanda :      Pernafasan biasa / cepat.   
                      Penggunaan otot bantu pernafasan
                      Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal. 
                      Bunyi nafas ronchi  
                      Perkusi hyperresonan pada area paru.      
                      Warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku 
  5. Keamanan
    Gejala :      Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan.     
                      Adanya/berulangnya infeksi.
                      Seksualitas
    Gejala :      Penurunan libido        
  6. Interaksi sosial  
    Gejala :      Hubungan ketergantungan 
                      Kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat     
                      Penyakit lama/ketidakmampuan membaik.
    Tanda :      Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress -
pernafasan Keterbatasan mobilitas fisik.   
Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.
  1. Pemeriksaan diagnostik :
    Sinar x dada : Dapat menyatakan hiperinflasi paru – paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi.
    Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat disfungsi.
    TLC                        : Meningkat 
    Volume residu          : Meningkat.
    FEV1/FVC             : Rasio volume meningkat. 
    GDA                       : PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal.  
    Bronchogram          : Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat inspirasi, pembesaran  duktus mukosa.
  2. Sputum                  : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasipatogen.
  3. EKG                       : Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF.
  1. Diagnosa keperawatan       
    Kemungkinan Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
    1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
    2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.
    3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
    4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.
    5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis.
    6. Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.
    7. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
    8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan dirumah.
  1. Perencanaan Keperawatan   
    1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
      Tujuan : 
      Mempertahankan jalan nafas paten.   
      Rencana Tindakan:       
      Auskultasi bunyi nafas  
      Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas.
      Kaji/pantau frekuensi pernafasan.       
      Rasional : Tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan selama / adanya proses infeksi akut.       
      Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir        
      Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol dispoe dan menurunkan jebakan udara.
Observasi karakteristik batuk   
Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada lansia, penyakit akut atau kelemahan        
Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari       
Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret mempermudah pengeluaran.
  1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.  
    Tujuan : 
    Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.
    Rencana Tindakan:       
    Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.
    Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit.
    Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.  
    Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea dan kerja nafas.
    Auskultasi bunyi nafas. 
    Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi
    Awasi tanda vital dan irama jantung   
    Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.   
    Awasi GDA        
    Rasional : PaCO­2 biasanya meningkat, dan PaO2 menurun sehingga hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil.       
    Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA        
    Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia.  
  2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
    Tujuan : perbaikan dalam pola nafas.  
    Rencana Tindakan:       
    Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir
    Rasional : Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan efektif.
    Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat   
    Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.
    Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan jika diharuskan
    Rasional : menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan.      
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.
    Tujuan : 
    Menunjukkan peningkatan berat badan.
    Rencana Tindakan:       
    Kaji kebiasaan diet.       
    Rasional : Pasien distress pernafasan akut, anoreksia karena dispnea, produksi sputum.
    Auskultasi bunyi usus    
    Rasional : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.
    Berikan perawatan oral
    Rasional : Rasa tidak enak, bau adalah pencegahan utama yang dapat membuat mual dan muntah.
    Timbang berat badan sesuai indikasi.  
    Rasional : Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
    Konsul ahli gizi  
    Rasional : Kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu memberikan nutrisi maksimal.
  1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis.   
    Tujuan : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi   
    Rencana Tindakan:       
    Awasi suhu.       
    Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi.
    Observasi warna, bau sputum. 
    Rasional : Sekret berbau, kuning dan kehijauan menunjukkan adanya infeksi.
    Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan sputum.   
    Rasional : mencegah penyebaran patogen.     
    Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
    Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tekanan darah terhadap infeksi.   
    Berikan anti mikroba sesuai indikasi    
    Rasional : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar